Tanin merupakan senyawa polifenol yang dapat membentuk senyawa kompleks tak larut dengan
makromolekul terutama
protein. Tanin banyak terdapat pada the, anggur, apel, delima, kesemek dan
lain-lain. Tanin merupakan zat antigizi yang dapat menurunkan daya cerna
makromolekul. Tanin dapat berikatan dengan protein membentuk
senyawa kompleks, lalu mengendapkan protein tersebut dari larutan melalui ikatan hidrogen,
ikatan kovalen dan ikatan ionik. Ikatan hidrogen terjadi antara gugus hidroksil
fenol pada tanin dengan gugus amida pada asam amino bebas atau gugus hidroksil
dengan karboksil polimer lain. Akibat dari pengikatan protein oleh tanin, maka
berat molekul protein menjadi semakin besar yang menyebabkan
protein tidak dapat dihidrolisis oleh enzim protease karena sulit ditembus sehingga daya cernanya akan menurun (Waghron, 2006).
Selain itu, tanin dapat menghambat kerja enzim (enzyme inhibitor). Enzim yang
dihambat aktivitasnya adalah enzim pencernaan antara lain tripsin, kimotripsin. Tripsin dan kimotripsin yang merupakan enzim
protease yang memecah protein menjadi
asam amino. Apabila enzim tripsin dan kimotripsin terhambat
kerjanya, maka pemecahan protein tidak terjadi dan daya cerna protein akan
menurun (Jayanegara dan Sofyan, 2008).
Tanin juga menyebabkan
retensi nitrogen tertekan dan mengakibatkan penurunan daya cerna asam amino dan
penurunan absorbsi protein. Hal ini akan membuat konsumsi protein menurun,
karena banyak protein yang tidak dapat dicerna dan dikeluarkan bersama dengan
kotoran karena tidak diserap oleh tubuh (Palupi, 2007).
Pengujian tannin dilakukan dengan prinsip
colorimetric dimana tanin dalam sampel diekstraksi menggunakan
pelarut organic yang sifat kepolarannya sama misalnya adalah metanol, setelah itu ditambahkan reagen Folin Denis. Seyawa tanin akan mereduksi
asam phosphotungstomolybdic pada reagen dalam keadaan
basa menghasilkan warna biru hijau gelap yang
absorbansinya diukur dengan spektrofotometer dengan panjang
gelombang 755 nm. Konsentrasi tanin dapat diketahui menggunakan perbandingan
dengan kurva standart dari larutan standart asam tanat (Saxena et al, 2013).
Walaupun termasuk zat
antigizi, tannin juga memiliki manfaat diantaranya adalah:
1. Sebagai
absorben logam berat
Modifikasi tanin dengan resin
quebracho tanin dapat mengabsorbsi Timbal (Pb). Modifikasi tanin dengan
gelification dapat mengabsorbsi pewarna metilena blue. Absorbsi Cu dapat
dilakukan oleh resin tannin valonia. Barbeery tanin dapat untuk mengabsorbsi
Hg.
2. Sebagai senyawa
antimikroba
Tanin memiliki kemampuan untuk
membentuk kompleks chelat dengan ion logam. Tanin berfungsi sebagai antimikroba
namun jangkauannya tidak luas dalam inaktifasi jamur dan bakteri. Tanin dapat
bereaksi dengan membrane sel, mendenaturasi dan mengkoagulasi protein serta
merusak dinding sel mikroba.
3. Sebagai
antioksidan
Katekin dalam tanin dapat
mengikat logam yang dapat memicu oksidasi lemak untuk membentuk radikal bebas.
Logam yang terikat tidak dapat mengoksidasi lemak sehingga mengurangi
kemungkinan kanker. Selain itu, tanin dapat menetralisir radikal bebas yang
terbentuk.
4. obat diare
Tanin dapat menciutkan dan
mengeraskan dinding usus sehingga dapat mengurangi keluar masuknya cairan dalam
usus.
5. menghentikan
pendarahan
6. mengobati
wasir
7. Sebagai
antidotum (penawar racun) dengan cara mengeluarkan asam tamak yang tidak larut
dan bereaksi dengan alkaloid membentuk tanat yang mengendap.
8. Senyawa
turunan tanin yang terhidrolisis dapat meningkatkan kinerja insulin .
Komentar
Posting Komentar